Dewasa di Antara Gado-Gado dan Es Teh

Menikah itu nggak cuma sebatas biar kita bisa gandengan, pelukan, tinggal serumah, beranak pinak.

Rate this:

Advertisements

Menikah itu nggak cuma sebatas biar kita bisa gandengan, pelukan, tinggal serumah, beranak pinak.

© Februari 2018

Pic © Resep Masakan


“Ayo menikah, Ra,” ujarnya di sela-sela makan siang kami. Setelah menelan suapan gado-gadonya yang entah sudah keberapa dan diikuti dengan menyeruput es teh, dengan tenangnya dia berkata demikian. Tanpa basa-basi sebagai persuasi apa lagi mengandalkan elokuensinya.

Padahal sebelumnya kami hanya sedang membahas seputar kehidupan masing-masing dewasa ini. Aku yang sibuk dengan tugas akhir dan sidang pendadaran, dia yang sibuk dengan pekerjaannya di kantor yang mulai menuntut profesionalitasnya.

Lantaran begitu tiba-tiba, aku tidak bisa menyelamatkan lidahku yang terlanjur tergigit saking kagetnya. Lamarannya benar-benar tidak ada manis-manisnya.

“Mas Yogy.” Aku menghentikan aktivitas menggilas makananku dengan gigi geraham dan memaksakan diri untuk menelannya cepat-cepat agar dapat segera menyampaikan ansietasku. “Aku emang pernah punya kepenginan buat nikah muda. Apa lagi waktu stres-stresnya tugas akhir kaya sekarang ini. Sedikit-sedikit, nyeletuknya mau nikah muda aja.”

“Ya udah, ayo aja lah,” ia menyahut enteng dengan lidahnya yang seberat bulu ayam itu.

“Bentar, toh. Aku ‘kan belum selesai ngomong. Dengerin dulu, kek.”

“Ya udah, wis, tak dengerin.”

“Selama ini, tiap ditanyain orang, aku mau ngapain setelah lulus, pasti aku jawab mau lanjut S2, lanjut S2, lanjut S2. Padahal selama ini ngerjain tugas akhir S1 aja peningnya kaya embuh, tapi gaya banget jawab pengen lanjut S2.”

“Memangnya sebenernya kamu kepengin ngapain?”

“Sebenernya belum tahu, sih, Mas. Tiap ngelihat yang pada sekolah ke luar negeri, akhirnya jadi kepengin.” Aku melanjutkan, “Aku selalu bikin pembenaran dalam kepalaku sendiri; nanti kalau sekolahku tinggi, bakal lebih gampang dapet kerjaan. Bisa jadi dosen juga. Kelihatan serius di akademis alias pinter dan keren. Padahal cuma mau lulus di sini aja susahnya kaya gini. Apa lagi di luar negeri, ‘kan?”

“Iya, sih. Sekarang banyak tuh yang mati-matian pengin sekolah ke luar negeri biar kelihatan keren aja atau cuma karena belum siap pusing nyari kerjaan.”

“Nah, itu dia. Aku baru sadar, seharusnya aku nggak milih menikah atau studi lanjut hanya karena ingin melarikan diri. Tapi murni karena aku emang bener-bener mau dan siap.”

Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar. “Sip. Kamu emang jos, Ra.”

“Kamu, juga, seharusnya nggak terus-terusan maksa aku buat segera mengiyakan ajakanmu cepet-cepet menikah pas kepalaku lagi ditekan sama banyak kecemasan kaya gini. Bikin tambah pusing.” Aku meletakkan sendokku dan mulai menyeretnya dalam konversasi yang lebih serius. “Menikah itu nggak cuma sebatas biar kita bisa gandengan, pelukan, tinggal serumah, beranak pinak. Mbok pikir aku nggak malu ketemu keluargamu dalam keadaan nganggur? Walaupun kamu bilang santai aja lah, keluargaku nggak mikir kaya gitu, emang mukaku dari gedek? Aku ‘kan pengin bisa bangga sama diriku sendiri. Aku juga pengin, orang tuaku memetik apa yang mereka tanam. Aku pengin mereka puas ngelihat aku dapet kerjaan setelah ngebuang uang segitu banyak cuma buat nyekolahin aku.”

Dia hanya tercenung dengan dahi berkerut samar. “Iya juga, sih,” sahutnya pendek, lalu tergeming sesaat. “Sekarang aku jadi takut kalau selama ini aku pengin nikah cuma karena nafsu aja. Tapi tak benerin dengan alasan-alasan agamis.”

Kini, aku menyungging senyum lantaran dia berhasil menangkap maksud dari perkataanku tadi. “Sabar, ya, Mas. Orang tuaku berhak atas diriku terlebih dahulu. ‘Kan nggak adil kalau tiba-tiba aku main pergi aja jadi istri orang.”

Dia menyambutnya dengan sunggingan senyum dan berkata, “Maafin aku, ya, Ra.”

end.


P.s.

Jadi … aku membawa kembali Yogy Akarta dan Flora Casuarina karena mereka yang paling cocok ngomongin obrolan mahasiswa-mahasiswa fase peralihan yang agak banyak pro kontranya kaya gini, terutama di Indonesia. Hahaha.

Kita hidup di tengah rantai yang nggak putus-putus soal pertanyaan kapan. Kapan lulus-kapan kerja-kapan nikah-kapan punya anak-kapan nambah momongan-kapan anaknya nikah-kapan punya cucu-kapan mati kali ya lol dan kembali lagi.

Life so sucks for me lately. It’s so hard to handle it well. Tiap ada yang nanya, kamu kenapa? Dan setelah udah dijelasin panjang lebar, mereka tetep ngeyel memaksakan kemauan dan cara berpikir mereka ke aku. It feels like they don’t give me a chance to be who I am, to take a deep breath after all of the hardships I’ve been facing until now. Katanya, sih, nggak maksa. Tapi suka bikin story yang nyinggung-nyinggung gitu emangnya w ga kerasa apa lol.

Dah lah ngelanturnya. Sori jadi curcol maksimal. Jadi pengin gado-gado.

Peace, love, and gaul.

14 thoughts on “Dewasa di Antara Gado-Gado dan Es Teh

  1. “beranak pinak”
    LUV banget quotenya ri. Dan simply ngena apalagi buat manusia seperempat abad yang jatidirinya masih diumpetin semesta macem aku
    Hopefully life’ll get better for you, for us. Makan gado-gado pedes mungkin emang ide yang bagus 💞

      1. sampe udah nggak ada yang berani nanyain sih takut dislepet
        tapi sebagaimana kata Flora, yang belum menikah berarti masih dikasih kesempatan untuk mengabdi dan berbakti pada orang tuanya lebih lama. syukuri saja, jawab aja gitu hewhew

  2. Kak ariiii hai! Udah lama kayaknya aku nggak komen di fiksi kakak, terakhir yang kuingat cuma kasih like doang. Huft. I’m sorry. Tapi di sini aku pengin banget underline, bold, sama kalau perlu italic:

    “… Aku ‘kan pengin bisa bangga sama diriku sendiri. Aku juga pengin, orang tuaku memetik apa yang mereka tanam. Aku pengin mereka puas ngelihat aku dapet kerjaan setelah ngebuang uang segitu banyak cuma buat nyekolahin aku.”

    HUHUHUHU SO TRUE. Aku memang nggak mikirin nikah sih, tapi apa ya, untuk keadaanku sekarang… kalimat itu kerasa menampar aku banget. Like, I have to do reaaaally well to pay them back. Dan balik ke soal nikah, rasanya emang kurang ‘berterimakasih’ aja (atau apa ya kata tepatnya wkwk) kalo sekadar lulus trs jadi suami orang.

    Thanks kak for writing this, dan mengutip komen di atas; hopefully life’ll get better for us! ❤ ❤

    p.s AKU JD PENGIN GADO-GADO OMG UDAH LAMA BANGET GA CICIP!!!!

    1. Halo, Shiaaa! Akupun juga terakhir cuma nge-like puisi kamu. Shantay aja shay~

      Yes, you have to!
      Juga, rencanakan hidupmu baik-baik, Shia. Kamu harus ada gambaran, someday mau kerja apa. Walaupun cuma seuprit-seuprit, nggakpapa. Because the real life starts after you graduate from uni and you will get the feeling of “Wah, so it’s really a cruel world I’m living in.”
      Nah, iya kan, masa iya tiba-tiba aja tanemannya ortu dipanen orang asing. Nggak adil banget haha.

      Thank you so so so much for sparing your time to read this and even leave a long precious comment, Shia!
      You too, I hope you do well on your life. ❤️❤️

      SANAAAH besok beliiiiiiii hahaha
      Seneng deh w berhasil ngomporin orang banyak biar pengen makan gado gado lol

      1. Aaaa kak ari, thank you sekali reminder-nya 💛 meskipun iya, udah sering banget dikoar-koar sama guru-guru, bahkan sampe telingaku panas dan enek sendiri… tapi setelah kak ari ngingetin rasanya kayak… yeah, you have to think it seriously, shi, karena emang itu kenyataannya. Idk, dulu-dulu aku seringnya mikir “ngapain sih mikirin prospek kerjanya, jalanin aja dululah.” BUT MAKIN KE SINI AKU MULAI GOYAH 😦 The real world is not like what I thought it was, rite? It’s cruel like you say, dan kita harus punya perencanaan mau menghadapinya gimana.

        /HUGS KAK ARI/ 💛💛💛

  3. KAK ARIII!

    AKU SANGAT SETUJU. Akhir-akhir ini banyak orang yang ngelakuin A-Z cuman karena ngikutin tren or something, padahal kalau dipikir-pikir bukan itu yang mereka butuh. Ada yang nikah/kuliah/kerja dulu ya silakan, atau bahkan mau jalan keliling dunia ya boleh aja.

    Terus menanggapi notes kakak, aku merasa bahwa orang-orang tuh ngasih tau kita harus kayak apa, tapi gak ngasih tau cara atau solusi 😦 you’ll be okay without them kak, you’ll fine another who actually will try to understand, and remember you’re good enough for yourself 😉

    Terima kasih buat reminder buat orang yang merasa sedang tidak baik (atau yang suka nanya aneh-aneh malah bikin down hahaha).

    Keep fighting kak! ❤❤

    1. HALO, TARI SHERLOCKKKK!

      Iya, sampai-sampai tanpa sadar, orang-orang itu jadi ngebet melakukan sesuatu yang padahal mereka cuma ikutan kepengin doang, imbasnya bisa sampe mengganggu dan merugikan orang lain.

      Iyaaa, bener banget! Terus ntar ujungnya menuntut ini itu.
      Thank you so much, Tar. It means a lot…
      I’m nearly depressed lately, that’s why I end up making this.

      Kamu juga, semangat yaaa kuliahnya! ❤️❤️

  4. Ariiiiiiii this is so amazing story of yours!! I’ve been there before, and it feels like suck. Aku sampai bingung mau komentar apa lagi karena this is so damn true. Masalah yang dihadapi anak-anak muda kayak kita ini ya emang seperti itu, banyak tekanan dari masyarakat tanpa mereka mau memahami diri kita yang sesungguhnya. But, believe in yourself, Ri. Selama kamu yakin sama diri kamu dan mimpi-mimpi kamu, aku yakin kamu gak akan mudah terpengaruh sama perkataan yang tidak membangun dari orang lain!

    Mungkin, kita bisa mengagendakan untuk bertemu atau sekadar chat untuk membicarakan hal ini bersama hihihi I love talking about life with friends ^^

    1. Sedihnya, Yun, orang lain itu orang-orang terdekat. Jadi, mau diabaikan pun nggak sepenuhnya bisa. Pusing aku, Yun.
      Udah dijelasin berapa kalipun, tetep nggak mau ngerti. Gara-gara udah “terpengaruh” lingkungan, akhirnya mereka jadi ikutan kepengin kaya gitu, akhirnya nuntut aku buat bisa kaya gitu tanpa pertimbangin keadaanku kaya apa.

      Waaaah leh uga tuuuuuh. Tapi sayangnya aku dah jarang banget ke Solo ㅠㅠ

  5. halo kak ariiii!!! hehe apa kabar? i hope you’re doing good ya hehe. kalo ga salah ini pertama kalinya aku baca tulisan kak ari? atau mungkin aku udah pernah dan aku, dengan kurang ajarnya, lupa?

    first of all, kayak komentar-komentar di atas aku setuju bgt sama tulisan ini, and tbh this is one of the most realistic writings i’ve ever read for the past few weeks. kdg sering bgt ga sih kita liat org2 yg ngerasa udh capek sama kehidupan kuliahnya pada serampangan bilang “ah capek kuliah, mau nikah aja!” gitu ga sih? yeah, i know kalo itu cuma jokes belaka, tapi selain aku mau setuju sama kak ari kalo sebenernya kita jg hrs merjuangin mimpi kita buat diri sendiri & orgtua, aku jg mau nyorotin bahwa … people seem to simplify marriage i guess?? people forget that marriage comes with a huge resposibility on it dan itu ga sesederhana keliatannya. kalo mau nikah dulu sebelum pendidikan selesai, ya silakan, it’s your own life anyway, tapi kdg aku suka sedih (dan kesel) kalo liat org pgn buru2 nikah tp yg dipikir cuma enak2nya aja, ga mikir bahwa ada tanggung jawab & tugas besar yg harus dijalanin 😦

    oiya aku jg pgn nanggepin p.s.-nya kak ari, asli itu ngeselin bgt!!! 😦 mereka tanya2 ttg keadaannya kak ari tp begitu dijawab mereka kesannya jd maksa bgt. why dont you just listen hedeeeeeh at certain point kita pasti pgn bgt cerita ttg semua masalah kita didengar, tapi kdg begitu kita cerita, respons yg kita dapet malah kayak gitu dan itu ngeselin 😦 anyway, i hope you can find your own strength & kak ari jg bs nemuin org yg tepat untuk bercerita drpd cerita sm org2 yg kurang menghargai kayak gt (btw cerita sm aku jg gpp kok kak lol) (LAH HAHAHA)

    BTW KAK maaf ini panjang & sampah ngelantur bgt omg komen aku, udh lama ga main di wordpress lol dan ya aku jg mau berterima kasih sm kak ari udh nulis ini!!!! have a good day kak & keep writing!♡♡

    1. Halo, Tataaa! (Omgomgomg Tata di sini omg ashshdjfkdkdk)
      Still not that good, tapi lumayan bahagia habis gajian he he he
      Entahlah, tapi ini baru pertama kalinya kamu komen haha

      Beneeer. Nowadays marriage seems like something you can do easily, whenever you want. Apa lagi kampanye2 nikah muda itu bikin rangorang tiba-tiba jadi mendadak galau masalah jodoh when you’re still in your early 20s. Jadi semacam kena brainwashing gitu 😒
      Dan ternyata dampaknya bisa kena ke aku yang masih mumet mikirin kerjaan.

      Iya, they never know how it feels to be in my shoes. Setelah cerita, aku malah “disalahin” karena nggak bersyukur. The fact is people who get a lot of huge pressures know that they should be grateful, but they just can’t. Makanya mereka cerita ke orang, dengan harapan they will find comfort. But end up with being blamed. Sedih nggak sih?

      Awwwww that’s so nice of you, Ta! I’d love to, lho. He he. Tolong jangan php HAHAHA

      Duh gapapaaaaaa. Makasih banget banget banget. Kamu dengan ciri khas komen panjangmu really makes my day!!! ✨
      Sering-sering nulis lagi dooong. I crave for your writings already nihhhhhhh.
      You too, have a great day! Please come back soon! ❤️❤️❤️

Mind to leave your impression, Sugar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s